SKRIPSI EKONOMI

Standard

Beberapa contoh skripsi yg ada di blog ini merupakan gambaran singkat tentang tata cara penulisan skripsi.dan sebagai panduan kawan-kawan yang sedang menyusun tugas akhir, semoga bermanfaat.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang

Pembangunan pertanian sebagai bagian integral dari pembangunan nasional yang mempunyai peranan strategis dalam pemulihan ekonomi nasional. Peranan strategis tersebut khususnya adalah dalam penyediaan pangan, penyediaan bahan baku industri, peningkatan eksport dan devisa Negara, penyediaan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat. Prioritas pembangunan pertanian dewasa ini adalah melestarikan swasembada pangan, peningkatan ekspor non migas dan mengurangi pengeluaran devisa yang sekaligus memperluas lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Perternakan merupakan salah satu sektor penting di dalam perekonomian Kalimantan Barat dan mempunyai potensi yang cuku besar untuk dikembangkan, karena kontribusinya di dalam mencapai pertumbuhan ekonomi, penyediaan bahan baku industri, peningkatan eksport dan devisa negara, penyediaan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, meningkatkan pendapatan  petani dan kesejahteraan masyarakat. 

Salah satu usaha perternakan yang mempunyai potensi cukup besar untuk dikembangkan di Kalimantan Barat khususnya di wilayah Kota Pontianak yaitu  usaha beternak jangkrik. Di Indonesia derdapat kurang lebih 123 jenis jangkrik, diantaranya jenis Gryllus Tesaceus dan Gryllus Mitratus yang sekarang banyak dibudidayakan. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus memiliki wipositor lebih pendek dari Gryllus Tesaceus,  disamping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang. Kedua jenis  jangkrik ini hidup di semak – semak dan rerumputan pekarangan atau kebun, jenis Gryllus Tesaceus dan Gryllus Mitratus merupakan jenis jangkrik yang paling potensial untuk dibudidayakan, karena Jangkrik ini memiliki siklus hidup nimfa hingga dewasa sekitar 160 hari yaitu pada jenis jangkrik betina sedangkan pada jangkrik jantanya kurang lebih 3 bulan. Setiap induk jangkrik tersebut mampu menghasilkan lebih dari 500 butir telur dalam satu preode.

Untuk lebih jelas perbedaan siklus kehidupan dari kedua jenis jangkik Gryllus Tesaceus dan Gryllus Mitratus yang paling potensial untuk di budidayakan, mempunyai perbedaan siklus hidup seperti yang terlihat pada Tabel 1.1 berikut ini :

DOWNLOAD tabel

Berdasarkan pada Tabel 1.1 dapat menunjukkan bahwa sebenarnya untuk budidaya Gryllus Mitratus lebih berprospek, sebap potensi jumlah telurnya hampir 2,5 kalilipat yaitu ± 1.200 butir telur   dibandingkan dengan Gryllus Testaceus  yang bisa menghasilkan telur mencapai  ± 500 butir. Namun fakta dilapangan peternak lebih memilih jenis jangkrik Gryllus Testaceus atau jangkrik Kalung untuk di budidayakan, karena di dalam tubuh jangkrik jenis Gryllus Testaceus terkandung berbagai senyawa yang bernilai gizi tinggi serta senyawa – senyawa lain yang bernilai farmakologi cukup baik. Adanya kandungan asam amino “lysine” dan “cystein” yang tinggi serta asam lemak omega-3 dan omega-6 maka jangkrik, sangat dimungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku berkualitas tinggi baik untuk produk pangan serta pakan unggas dan ikan. Adanya kandungan hormone-hormone steroid (estrogen, progesterone dan testosterone) serta protein kolagen, asam lemak omega-3. Senyawa-senyawa kimia yang terkandung  dalam jangkrik Gryllus Testaceus seperti hormone-hormone protein (FSH/LH dan hormone yang mengatur metabolisme dalam tubuh), enzim pencernaan dan enzim untuk metabolisme serta berbagai vitamin yang beguna bagi tubuh manusia.

Berdasarkan hasil penelitian  sedikit terungkap ternyata komponen yang terkandung dalam tubuh jangkrik jenis Gryllus Testaceus berpotensi untuk dimanfaatkan baik sebagai sumber pangan maupun untuk bahan baku industri.

Jangkrik merupakan plasma nuftah asli Indonesia dengan potensi cukup besar, oleh karena itu apabila diberdayakan dengan baik, terencana serta didukung oleh berbagai elemen dalam masyarakat maka sangat dimungkinkan untuk digunakan sebagai bahan baku berbagai industri dalam negeri atau produk ekspor dan dengan membudidayakan jangkrik bisa memperluas penyediaan lapangan kerja sekaligus memperbaiki pendapatan ekonomi masyarakat.

Soenanto (1999 : 5) menyatakan, bahwa jangkrik sangat potensial untuk dibudidayakan sebagai bahan pangan dan pakan ternak karena memiliki palabilitas dan kandungan protein yang tinggi, yaitu antara 58 – 60% dan jenis jangkrik yang baik untuk dibudidayakan yaitu jenis jangkrik Kalung (Gryllus Testaceus). Dengan mengetahui kandungan protein yang ada di dalam tubuh jangkrik sangat tinggi yaitu 58 – 60% membuat permintaan jangkrik khususnya di wilayah Kota Pontianak dan luar di Kota Pontianak dari tahun – ketahunnya meningkat.

Beternak jangkrik di wilayah Kota Pontianak sudah digeluti petani sejak beberapa tahun silam, namun jumlah usaha beternak jangkrik masih relatif sedikit karena dahulu permintaan akan jangkrik di wilayah Kota Pontianak dan luar wilayah Kota Pontianak selain dapat diperoleh dari hasil budi daya, jangkrik juga masih dapat diperoleh dari alam sekitar. Usaha beternak jangkrik yang pertama di wilayah Kota Pontianak adalah usaha beternak jangkrik milik Bapak Agus Suponco yang didirikan  pada tahun 1998, dengan jumlah permintaan jangkrik masih relatif sedikit, hal itu disebapkan permintaan jangkrik di wilayah Kota Pontianak dan luar wilayah Kota Pontianak masih kurang, dikarenakan orang belum mengenal jangkrik bisa sebagai pakan ikan dan unggas yang mempunyai kandungan protein tinggi. Selain dapat diperoleh dari hasil budidaya, jangkrik juga masih dapat diperoleh dari alam sekitar. Namun  seiring dengan perkembangan zaman serta pembangunan yang pesat di daerah perkotaan khususnya di wilayah Kota Pontianak membuat habitat jangkrik di alam menjadi semakin sempit, serta perburuan jangkrik yang dilakukan secara    terus – menerus dan dampak dari racun pestisida membuat populasi jangkrik di alam menjadi menurun drastis sehingga jangkrik semakin sulit dijumpai, dan membuat pasokan jangkrik semakin berkurang, sehingga membuat permintaan jangkrik sekarang ini hanya tergantung dari hasil produksi pada usaha beternak jangkrik yang ada di wilayah Kota Pontianak.

Untuk melihat rata – rata produksi dari usaha beternak jangkrik milik Bapak Agus Suponco tahun 2006 – 2010, dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut ini :

 Tabel DOWNLOAD

Berdasarkan pada Tabel 1.2 dapat dilihat untuk jumlah produksi jangkrik tahun 2006 adalah sebanyak 2.000.000 ekor, sedangkan untuk jumlah produksi jangkrik di tahun 2007 adalah sebanyak 2.500.000 dengan persentase peningkatan sebesar 0,15% dari tahun 2006. Untuk jumlah produksi jangkrik di tahun 2008 adalah sebanyak 3.500.000 ekor dengan persentase peningkatan sebesar 0,52% dari tahun 2007, untuk jumlah produksi jangkrik di tahun 2009 adalah sebanyak 5.000.000 ekor dengan persentase peningkatan sebesar 0,43% dari tahun 2008 dan untuk jumlah produksi jangkrik di tahun 2010 adalah sebanyak 7.920.000 ekor dengan persentase peningkatan sebesar 0,98% dari tahun 2009. Naiknya jumlah produksi pada usaha beternak jangkrik milik Bapak Agus Suponco dikarenakan jumlah permintaan jangkrik dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Usaha beternak jangkrik bisa berkembang dikarenakan adanya faktor produksi yang mendukung, diantaranya adalah tenaga kerja yang membantu dalam proses pemberian pakan dan pemasaran, peralatan yang digunakan dalam pembudidayaan seperti kotak tempat pembudidayaan, dan didukung dengan pemilihan induk yang berkualitas sehingga bisa meninggkatkan produksi jangkrik  ditambah dengan modal baik berupa barang atau berbentuk uang yang diperlukan dalam proses usaha beternak jangkrik.

Seiring  dengan meningkatnya para penggemar burung berkicau, ikan hias jenis arwana, dan peningkatan jumlah pemeliharan ikan dalam skala besar di wilayah Kota Pontianak dan luar wilayah Kota Pontianak membuat permintaan terhadap jangkrik sebagai sumber pakan hewan peliharaan menjadi tinggi, sementara kemampuan dari usaha beternak jangkrik di Kota Pontianak belum mampu untuk memenuhi jumlah permintaan pasar. Adapun jumlah permintaan jangkrik pada usaha beternak jangkrik Bapak Agus Suponco tahun 2006 – 2010  untuk wilayah Kota Pontianak dan luar wilayah Kota Pontianak dapat dilihat pada Tabel 1.3 berikut ini :

Tabel 1.3

Rata – rata Permintaan Jangkrik per Tahun di Wilayah Kota Pontianak dan di Luar Wilayah Kota Pontianak pada Usaha

Beternak Jangkrik Agus Suponco

Tahun 2006 – 2010

 

Tahun

Permintaan di Wilayah Kota

Pontianak

(Ekor)

Persentase Peningkatan

(%)

Permintaan di Luar Wilayah Kota Pontianak

(Ekor)

Persentase Peningkatan

(%)

2006

2007

2008

2009

2010

3.200.000

3.400.000

4.300.000

5.500.000

7.900.000

0,06

0,26

0,28

0,44

300.000

350.000

500.000

600.000

900.000

0,17

0,43

0,20

0,50

Sumber : Usaha Beternak Jangkrik Agus Suponco, 2011

 

jika ada yang membutuhkan skripsi lengkap anda bisa komentar disini dan mencantumkan alamat e-mail anda

saya senang untuk berbagi dan belajar.

One thought on “SKRIPSI EKONOMI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s